Badut Di Pesta Nadine
Badut di Pesta Nadine / Oleh Deden Kurniawan
Sejak awal, mengenakan kostum berbusa tebal yang memerangkap gerah, riasan bedak putih yang membuat pori-pori wajahnya gatal, dan hidung busa merah bulat bukanlah keputusan yang diambil Dwika dengan kerelaan.
Menjadi badut ulang tahun adalah peran sampingan yang terpaksa ia lakoni demi menutup lubang-lubang kebutuhan hidup. Ketika gaji dari pekerjaan utamanya terasa pas-pasan, urusan gengsi sudah lama ia lego di nomor sekian. Sisanya, ia hanya ingin mencari sedikit bahagia.
Namun, justru karena alasan terakhir itulah, siang ini Dwika ingin menyerah. Ia lelah dipaksa melompat-lompat girang dengan memamerkan senyum palsu berbalut gincu, di saat fondasi di dalam dadanya sendiri sedang runtuh berserakan. Ia ingin mencari pekerjaan sampingan lain, apa saja, asal tidak menuntut pelayanan serba ceria.
Tepat saat tekadnya untuk berhenti mengoleskan gincu sudah bulat, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
"Tolong, Dwika. Tidak ada badut pengganti lain yang bersedia diminta dadakan," suara di seberang telepon terdengar mendesak. Perempuan itu membutuhkan badut untuk acara ulang tahun keponakannya sore ini juga.
Perempuan itu bukan orang asing. Dwika bahkan tahu persis di mana alamat rumahnya. Dia adalah Nadine. Dwika menjadi cukup mengenalnya sejak sekian kali diundang untuk menghibur di beberapa jenis acara pribadi Nadine sebelumnya.
Mendengar suaranya, perasaan enggan yang sempat menyumbat dada Dwika seketika menguap. Meski di saat yang bersamaan, Dwika merasa alasan Nadine sebenarnya terdengar basi. Ia tahu persis ada banyak pamflet jasa badut lain tertempel di tiang-tiang listrik menuju jalan rumah perempuan itu. Nadine bisa memanggil badut manapun yang ia suka. Namun, mengetahui bahwa kali ini Nadine memilih untuk mengandalkannya kembali, pertahanan Dwika seketika runtuh.
Meskipun ia juga sadar, menerima undangan itu berarti sama saja dengan menyerahkan dirinya untuk kembali terluka, Dwika sudah kepalang candu pada angan-angan menjadi badut andalan.
Dwika teringat hari di mana ia dengan sengaja melemparkan pamflet jasanya ke halaman rumah Nadine. Sejak hari itu, Nadine menjadi langganan tetap yang selalu ia tunggu panggilannya.
“Non, minggu ini ada yang ulang tahun lagi, gak?” seloroh Dwika kepada Nadine. Pesan itu dikirim hampir di setiap akhir pekan. Berharap ada undangan dari Nadine, bukan karena Dwika sepi panggilan, melainkan karena melihat Nadine sebelumnya adalah kebahagiaan kecil yang ingin ia ambil di setiap hari libur.
Dalam beberapa kesempatan, Dwika rela membatalkan janji menghibur di tempat lain, atau bahkan memeras sisa waktunya yang tinggal sedikit, hanya agar selalu tersedia tiap kali Nadine memanggil. Lebih dari itu, seandainya beratraksi di depan rumah Nadine setiap hari tidak dianggap mengganggu, ia akan melakukannya dengan sukarela tanpa dibayar.
Sore itu, di sudut restoran yang bising oleh pekikan anak-anak, Dwika melakukan apa yang paling ia kuasai: membuang martabat demi tawa orang lain. Dari balik topeng riasan yang tebal, matanya tidak pernah lepas memburu sosok Nadine. Ia jungkir balik, melempar bola-bola mainan ke udara, dan melempar lelucon konyol.
Di antara kerumunan, terlihat Nadine yang sempat berpaling dari ponselnya. Melihat perempuan itu kemudian tersenyum tipis, meski hanya sekilas sudah mampu membuat dada Dwika terasa hangat dan penuh.
Dwika bahagia, meskipun kebahagiaan itu hanya menjadi miliknya sendiri. Sedangkan bagi Nadine, senyuman itu tak lebih dari bentuk kesopanan sebelum ia kembali sibuk dengan urusan yang tidak Dwika pahami.
Bersamaan dengan malam yang mulai merayap sedikit demi sedikit, tidak ada lagi ketebalan make-up yang mampu menyembunyikan rasa kecewa di balik raut wajah Dwika. Riasan ceria itu ikut luntur menjadi rasa berantakan yang sudah diwanti-wanti.
Dwika juga tahu, bahwa jelas tidak ada yang salah dengan Nadine. Dwika mengerti hal itu sejak ia berusaha keras memahami alasan kenapa nomor teleponnya disimpan dalam daftar kontak di ponsel Nadine.
Bagi Nadine, menghubungi Dwika hanyalah kegiatan transaksional yang berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada bedanya dengan memanggil jasa servis AC, kulkas, mesin cuci, atau alat elektronik rumah tangga lainnya. Bahkan seandainya tidak ada Dwika sekalipun, Nadine punya banyak pilihan lain untuk meramaikan pesta. Jasa pesulap, misalnya.
Dwika membatin pahit. Kalau soal sulap, ia jelas tidak tahu bagaimana cara memunculkan burung merpati dari topi kosong, apalagi menghilangkannya dalam sekejap mata. Hal yang sama persis berlaku pada perasaannya kepada Nadine. Sejak awal, Dwika tidak mampu mengendalikan kehadiran perasaan itu. Ia datang tanpa sebab diminta, dan ia juga tidak becus menghilangkannya meski sudah diakali dengan beragam rencana.
Perasaan manis sekaligus getir itu tumbuh subur sejak Dwika salah mengartikan keramahan basa-basi. Perasaan itu membesar dari kantong besek berisi makanan yang disodorkan Nadine selepas acara. Dari senyuman hangat saat amplop honor diserahkan ke tangannya. Serta dari ucapan, "Hati-hati di jalan," tiap kali Dwika berpamitan meninggalkan lokasi.
Terlalu sering menerima keramahan formal itu membuat Dwika lupa tentang nilainya. Ia lupa bahwa dirinya hanyalah seorang badut penghibur yang bisa dipanggil kapanpun kalau ada perlunya, untuk kemudian dilupakan tanpa perasaan apa-apa begitu pesta Nadine sudah selesai.