Kebetulan - Melihat Lebih Dekat
Kebetulan adalah kata yang dipilih Deni untuk menyimpulkan bagaimana waktu mempertemukannya dengan Dita melalui cara-cara sederhana yang tidak disengaja.
Berawal dari lubang loket yang seukuran buku itu, Deni melihat sosok perempuan yang tampak asing di dalam ruang administrasi. Mengenakan seragam SMA yang nampak cantik, meski terlihat samar-samar dari jauh.
Deni sempat menoleh dua kali — asing, tapi entah kenapa cukup bikin penasaran barang sebentar. Mungkin adik kelas, kali, pikirnya, lalu dilupakan secepat rasa penasarannya ketika melihat untuk pertama kali. Baru dari obrolan santai bersama teman-teman, terselip kabar kalau perempuan itu ternyata siswi pindahan dari kota, hanya saja, belum ada yang tahu namanya.
Butuh waktu tiga bulan bagi Deni untuk tersadar, kalau perempuan itu ada dalam satu kelas yang sama. Bahkan dia duduk tepat di depan papan tulis yang sehari-hari Deni lihat ketika guru sedang memberi pelajaran.
Itu pun karena teman-teman yang belakangan sedang sibuk menggoda Alin, terus-terusan menunjuk ke arah mejanya. Hari itu Deni dibuat takjub dengan dirinya sendiri, bisa-bisanya tidak ngeh kalau ada perempuan yang tidak pernah ia perhatikan sejak awal semester, duduk tepat di sebelah Alin.
“Namanya Dita, siswi pindahan dari kota.” Jelas Alin yang bingung kenapa Deni baru tanya sekarang.
Jadi itu dia. Perempuan yang aku lihat dari lubang loket itu.
Deni yang hanya punya modal penasaran tanpa keberanian yang cukup, memilih cara berkenalan yang memutar melalui pesan singkat. Dan Minggu sore itu adalah pertama kalinya Deni mengirimi Dita pesan setelah mendapatkan nomor teleponnya dari Alin.
“Halo Dita. Aku Deni. Dapat nomor kamu dari Alin.”
Sejak saat itu, setiap minggu sore, Deni selalu mengirimi Dita pesan yang sama. Menanyakan soal tugas Matematika besok Senin, yang sebenarnya sudah selesai Deni kerjakan sejak Jumat.
Basi. Deni memang hanya terpikir cara-cara pengecut untuk mendapatkan perhatian Dita. Lewat cara aneh dengan pesan yang hanya dikirim setiap minggu sore itu, Deni berharap Dita curiga — bertanya kenapa soal Matematika itu-itu saja, atau kenapa cuma di Minggu sore. Sebab kalau Dita bertanya, itu tandanya dia peduli untuk sekedar penasaran.
Sebuah siasat aneh yang entah kenapa, aku pikir itu akan berhasil menciptakan perhatian."
Hanya saja, sudah tiga kali pesan yang sama itu dikirim, tapi balasan yang datang selalu sama datar dengan pertanyaan yang dikirim: dijawab, tidak lebih. Sementara perasaan Deni sendiri sudah tumbuh pelan-pelan, seiring dengan makin seringnya dia memperhatikan Dita dari belakang.
Dita jadi sedih. Begitu kata Alin, setelah menanyakan alasan kenapa Deni berhenti mengirimi Dita pesan dua minggu belakangan. Deni tidak banyak memberi penjelasan. Hanya kemudian Deni jadi tahu apa yang perlu dia lakukan.
“Halo, Dit. Apa kabar?”
Adalah pesan keempat kalinya dari Deni untuk Dita. Rasanya aneh, karena hari itu Jumat sore, sedangkan tadi siang di sekolah juga bertemu.
Tapi memang bukan karena Deni tidak tahu kalau kabar Dita hari ini sehat. Hanya saja Deni ingin memberi tahu Dita, kalau memang Dita jadi sedih karena Deni tidak pernah lagi mengiriminya pesan. Sekarang Deni ada, dan ini pesannya.
Sejak saat itu, semua kebetulan berkumpul satu per satu menjadi kesimpulan.
Tanpa disengaja, Dita sudah menjadi cinta pertamanya.