Kamu Di Mana - Melihat Lebih Dekat

Meski jelas semuanya telah berlalu
Aku masih saja menunggumu
Di antara kenangan indah yang lalu
Aku mencarimu

***

"Kamu sekarang di mana, Ta?"

Adalah kata yang selalu Deni ucapkan kapan pun waktunya sendu itu datang. Tidak kenal tempat, tidak peduli ramai apalagi sepi. Bisa di dalam maupun di luar ruangan, atau bahkan di sepanjang jalan Tangerang, ke mana pun arahnya — sambil berpapasan dengan pengendara lain yang tidak ambil peduli.

Deni selalu mencari Dita, tetapi bukan karena tidak tahu Dita ada di mana.

Kalau soal alamat, rasanya bukan hal yang sulit untuk dicari. Tapi kalau urusannya adalah perasaan yang tertinggal di masa lalu, bagaimana cara mendatanginya kembali?

Sudah terlanjur jadi kenangan.

Di luar dugaan, dulu Deni berpikir kalau terbiasa tanpa Dita sama sekali, mungkin hanya awalnya saja yang akan sulit. Lama-kelamaan juga bisa bosan — seperti kebanyakan orang yang bosan terus-menerus merasa sedih dan sepi sendirian, lalu pelan-pelan melupakan. Katanya, ini cuma soal waktu.

Omong kosong.

Dulu Deni tidak tahu, kalau perasaan yang sedang ia tampung itu adalah layaknya hewan peliharaan yang akan tumbuh dan terus-menerus mengamuk seiring usianya bertambah.

***

Seperti sudah menjadi rutinitas Deni setiap datang musim penghujan. Hari ini, di bulan September, Deni kembali mencoba menghitung, berapa kali ia sudah melakukan penjumlahan di tiap tahunnya.

Dulu di tahun pertama, Deni masih bisa pakai telunjuk. Di tahun kelima, sudah habis setengah jari tangannya. Lalu di tahun ketujuh, Deni mulai tidak yakin kalau sisa jemarinya akan cukup untuk menghitung tahun-tahun yang akan datang.

Menjadi wajar jika jingle 'September Ceria' yang terus diputar berulang kali di televisi dengan nada riang itu tidak terdengar seperti mengajak Deni untuk merayakan kebahagiaan liburan sekolah. Melainkan bagi Deni, nada-nada itu terdengar seperti bunyi-bunyian sumbang dari alarm bising di pagi hari, yang membangunkannya dari tidur lelap bersama mimpi indah tentang masa lalu.

Kini sudah habis sisa jemariku
Meski belum juga lelah terus menghitung
Waktu yang terus berganti
Nyatanya tidak mampu membuatku lupa

***

Sekarang, apakah Deni masih bisa bilang akhirnya waktu membuatnya lupa? Atau terbiasa dengan perasaan sepi tanpa sekali pun bisa melihat Dita?

Belakangan Deni jadi tahu, kalau dulu sepi itu hanya menjadi sebab perasaannya berduka. Tapi hari ini, sepi itu nyatanya sudah mengambil bentuk lain yang jauh lebih buruk. Sepi itu sudah berubah menjadi luka.

Luka yang mengajarkan Deni tentang apa makna di balik diksi dari kata hilang dan pergi. Makna yang kalau ditautkan dengan perasaannya soal Dita, maka artinya mungkin tidak akan pernah bisa kembali.

Sementara bagian yang tersisa untuk harinya saat ini, hanya soal kenangan. Menetap di kepala, yang dirasakan oleh hati, terekam utuh pada masa lalu, untuk kemudian terus diputar berulang-ulang, tanpa sekali pun bisa merasa bosan dengan rasa sakitnya.

Kenangan itu sudah hidup berdampingan, menjadi bagian Deni sehari-hari, persis seperti 'kucing peliharaan nakal' yang ia sayangi.

Sementara Deni kehabisan alasan untuk bisa mengusirnya dengan benci, namun juga kesulitan untuk menerimanya dengan damai.